Minggu, 23 Januari 2011
Rabu, 22 April 2009
EBONI DAN UPAYA PELESTARIANNYA
Eboni (Diospyros celebica Bakh) Dan Upaya Pelestariannya
Pendahuluan
Eboni atau kayu hitam (Diospyros celebica Bakh) merupakan flora endemik yang ada di pulau Sulawesi, dengan daerah penyebaran di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Saat ini diperkirakan penyebaran habitat eboni paling selatan adalah di wilayah Maros (Sulawesi Selatan), sedangkan bagian utara di daerah Tomini dan Toli-Toli (Sulawesi Tengah). Sulawesi Tengah merupakan daerah utama penyebaran alami kayu Eboni, yang meliputi wilayah Poso, Parigi, Donggala, Palu, Luwuk, Tomini dan Toli-Toli. Masyarakat suku Bugis (Sulawesi Selatan) mengenal tanaman ini dengan nama daerah aju lotong sedangkan suku Kaili (Sulawesi Tengah) mengenalnya dengan nama moutong.
Pohon Diospyros celebica dapat mencapai tinggi 40 m, diameter 100 cm, dengan tajuk berbentuk selindris sampai kerucut, percabangannya agak lateral dengan percabangan sangat kokoh. Sistem perakaran sangat dalam, luas dan intensif. Kulit luar berwarna hitam dan mengelupas kecil-kecil sejalan dengan bertambahnya umur pohon. Bunga berukuran kecil, buah berdaging dan merupakan makanan bagi satwa baik burung maupun mamalia Diospyros celebica dapat tumbuh pada berbagai type tanah, mulai dari tanah berkapur, tanah liat sampai tanah berpasir atau berbatu dan tofografi miring sampai curam berkisar 15 – 65% pada ketinggian 28,5 m sampai 450 m dpl. Pada hutan alam di Sulawesi jenis ini banyak ditemukan pada daerah yang memiliki curah hujan lebih dari 1500 mm.
Arti Penting Tanaman Eboni
a. Nilai Sosial Ekonomi
Sejak dulu kayu eboni banyak digemari orang karena merupakan jenis kayu mewah (faney wood) yang sangat populer, bukan saja karena kekuatan dan keawetannya yang tergolong kelas I, tetapi warna dan corak kayunya yang mempunyai nilai artistik tersendiri sehingga menyebabkan nilai pemanfaatannya tinggi. Kayu Eboni biasanya digunakan sebagai bahan meubel, patung, ukiran, hiasan dinding, alat musik, kipas dan kayu lapis mewah. Sementara di Jepang sebagai negara utama tujuan ekspor kayu eboni beranggapan bahwa, apabila perabotan rumah tangganya berasal dari kayu eboni dapat meningkatkan status sosialnya.
Di Sulawesi Tengah, pemasaran Eboni lebih dikenal dalam bentuk souvenir. Pemasaran terbesar souvenir berbahan baku eboni berada di kota Palu. Pusat pengrajin aneka souvenir barbahan baku Eboni terdapat di Poso. Di tempat inilah para pengrajin memproduksi berbagai kerajinan berbahan baku Eboni. Produk khas yang dihasilkan dan yang menjadi incaran pembeli adalah model perahu phinisi sulawesi berbagai ukuran. Selain itu aneka model jam dinding, meubel (kursi tamu, kursi goyang, kursi makan), gantungan kunci, patung-patung, frame, asbak, guci kayu dan masih banyak lainnya. Dari Ranononcu inilah produk souvenir disebar ke Palu untuk dipasarkan. Oleh pedagang di Palu, souvenir tadi disebar ke berbagai daerah di Indonesia diantaranya Jakarta, Surabaya, Makassar dan Kalimantan Timur. Kisaran harga souvenir berbahan baku Eboni di berbagai toko di Palu umumnya relatif murah. Satu model phinisi ukuran kecil ditawarkan senilai 150 ribu rupiah dan ukuran besar bisa mencapai 350 - 400 ribu rupiah, satu set kursi tamu ditawarkan dengan harga 1 - 3 juta rupiah, sedangkan satu buah kursi malas atau kursi malas seharga 750 ribu rupiah.
Patokan harga kayu Eboni yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan berdasarkan SK Menperindag No.726/MPP/ Kep/12/1999 tentang Penetapan Besarnya Harga Patokan untuk Perhitungan Provisi Sumber Daya Hutan adalah sebesar Rp. 6.000.000 untuk setiap ton kayu Eboni. Di kalangan pengumpul kayu eboni, harga dapat bervariasi dari 3 – 7 juta per meter kubiknya tergantung kelas dan kualitas kayu.
Klasifikasi Kelas Kayu Eboni di Pengumpul Kayu
| Kelas Kayu | Tekstur Serat | Kisaran Harga (per m3) |
| A | kualitas serat sangat bagus (halus, rapat, lurus) dan warna hitam yang merata di seluruh permukaan kayu. | 7 juta |
| AB | kualitas serat bagus (halus, rapat.dan lebih sedikit bengkok) dan warna hitam merata di seluruh permukaan kayu. | 6 juta |
| B | kualitas serat agak bagus (halus, agak rapat dan sedikit bengkok) dan mempunyai warna hitam yang agak merata. | 5 juta |
| BC | kualitas serat cukup bagus (halus, agak rapat dan agak bengkok) dan mempunyai warna hitam yang cukup merata. | 4 juta |
| C | kualitas serat kurang bagus (agak jarang,bergelombang) dan mempunyai warna hitam kurang merata. | 3 juta |
b. Fungsi Lanskap
Dalam dunia lanskap, tanaman Diospyros celebica memiliki beberapa nilai fungsional dan estetika. Dari nilai fungsi, tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman pengarah jalan, karena bentuk tajuknya yang kerucut seperti pada jenis tanaman glodogan tiang (Polyalthea longifolia). Tetapi berbeda dengan tanaman glodogan tiang, jenis tanaman ini memiliki bentuk kerucut yang lebih mengembang dan percabangan yang lebih keras dan kuat. Selain memiliki fungsi sebagai tanaman pengarah jalan, Diospyros celebica juga dapat digunakan sebagai tanaman penyerap kebisingan. Berdasarkan hasil penelitian, Diospyros celebica dapat meredam kebisingan sebesar 2,5 %mˉ¹. Hal ini diduga terkait dengan luas tajuk penahan suara, ketebalan daun, dan kerapatan daun. Dari sisi estetika tanaman ini dapat dijadikan eye catching karena selain warna kayu dan kulit kayu yang hitam juga karena tajuknya yang mengerucut serta bentuk daun yang bisa mengkilap bila terkena sinar.
Permasalahan Yang Dihadapi
Konsekuensi dari tingginya harga jual dari kayu eboni baik dari dalam negeri maupun luar negeri mengakibatkan semakin maraknya ilegal logging dan penyelundupan keluar negeri, kondisi seperti ini sangat dimungkinkan karena lemahnya pengawasan, dan banyaknya oknum yang bermain dalam perdagangan ilegal komoditi ini, mengingat untung yang diperoleh cukup besar. Sebagai perbandingan, kayu hitam yang dijual di Tawao (Malaysia) bisa mencapai 20 - 25 juta rupiah per meter kubiknya. Akibatnya populasi kayu hitam semakin berkurang, selain disebabkan karena eksploitasi yang berlebihan, juga karena kurangnya upaya pelestarian dan konservasinya, ditambah karakteristik pertumbuhan eboni yang lambat sehingga kondisi tersebut memberikan indikasi bahwa pengelolaan dan pemanfaatan kayu hitam mulai saat ini harus seoptimal mungkin dan seharusnya ada tindakan-tindakan khusus mengingat keberadaannya yang semakin langka.
Estimasi volume kayu Eboni tersisa di Sulawesi Tengah pada tahun 2003 yaitu 3,16 juta m3 yang menyebar pada luasan 1,2 juta ha hutan primer dan sekunder pada ketinggian di bawah 500 mdpl. Dari jumlah tersebut hanya 0,96 juta m3 yang relatif lebih aman sedangkan sisanya 2,2 juta m3 berada pada hutan sekunder yang telah terfragmentasi oleh perkebunan yang mempunyai akses mudah untuk kegiatan penebangan liar maupun konversi lahan. Dari tahun 1985 – 2003, tak kurang dari 4,02 juta m3 kayu eboni telah hilang baik oleh perambahan hutan, penebangan liar dan konversi lahan atau 223.356,07 m3/tahun dan setara dengan kehilangan habitat eboni seluas 67.889,38 ha hutan primer atau 95.045,14 ha hutan sekunder.
Menurut hasil survey, komposisi eboni dalam tegakan hutan eboni hanya sekitar 10% dengan kerapatan antara 1 - 6 batang/ha dengan volume kayu teras rata-rata 2 m3/ha. Batang dengan teras berkualitas baik terjadi setelah dimeter lebih 40 cm. Inventarisasi permudaan eboni pada tahun 1974-an saja menunjukkan bahwa pohon eboni dengan diameter lebih 50 cm di areal kerja HPH Sinar Kaili Sulteng, sudah jarang karena habis di panen.
Word Conservation Union (IUCN), dalam daftarnya mencantumkan Diospyros celebica Bakh termasuk ke dalam kategori vulnerable (VU AL cd) yang artinya berada pada batas beresiko tinggi untuk punah di alam. Kriteria penetapan status ini adalah jumlahnya diperkirakan tereduksi atau berkurang lebih dari 20% dari jumlah sepuluh tahun yang lalu dan perlu dijadikan target utama untuk konservasi baik habitat maupun jenisnya. Namun melihat kecenderungan pemanfaatan yang berlebihan saat ini kemungkinan status ini telah berubah lebih buruk lagi.
Upaya Pelestarian
Kecenderungan eksploitasi eboni yang berlebihan tanpa diimbangi dengan upaya pelestarian akan menyebabkan terjadinya penipisan keanekaragaman hayati yang serius (genetic erotion) yang lama-kelamaan dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan sumber daya genetik dari tanaman eboni.
Upaya pelestarian eboni dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pemanfaatannya, sehingga pelestariannya haruslah merupakan kegiatan terpadu dalam suatu pengelolaan, mulai dari penanaman bibit sampai kepada pemanfaatannya menjadi barang jadi, sehingga dapat memberikan nilai optimal, tidak hanya nilai ekonomi tapi juga nilai ekologis dan nilai sosial budaya, mengingat jenis ini merupakan jenis endemik Sulawesi.
Dalam upaya pelestarian eboni, hal-hal yang dapat dan telah dilakukan, yaitu :
1. Upaya perlindungan, meliputi perlindungan di dalam negeri melalui SK atau Perda yang sesuai untuk pelestarian eboni, perlindungan internasional, untuk mengendalikan penyelundupan yang semakin marak, sehingga kontrol perdagangan internasional melalui CITES sangat diperlukan.
2. Konservasi, meliputi konservasi in-situ dan ex-situ.
§ Konservasi in- situ dapat dilakukan dengan penetapan cagar alam dan taman nasional dan stasiun pengadaan bibit di tempat/habitat eboni.
§ Konservasi ex-situ dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah penggunaan eboni sebagai tanaman pekarangan, hutan kota dan peneduh jalan, hutan kemasyarakatan atau hutan rakyat eboni serta hutan tanaman eboni.
Konservasi genetik ex-situ dapat dilakukan juga dengan cara lain seperti:
§ Pengawetan tanaman di dalam kebun-kebun botani dan kebun raya.
§ Pembangunan kebun-kebun benih (seed orchard), sebagai upaya pengadaan bibit dari luar habitat aslinya
§ Penyimpanan benih dalam dry cold storage
§ Pengembangan teknik-teknik perbanyakan secara in-vitro
§ Pembangunan bank-bank plasma
3. Pemanfaatan yang Optimal
Saat ini pemanfaatan kayu eboni di dalam negeri sebatas pada barang kerajinan dan meubel pada industri rakyat. Kurang bervariasinya pemanfaatan kayu hitam ini terutama karena tingkat teknologi dan modal masyarakat. Sementara di luar negeri pengolahannya sangat bervariasi sehingga permintaan akan kayu ini sebagai bahan baku industri sangat tinggi, sehingga mendorong maraknya ilegal logging dan ilegal ekspor. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengolahan dan pemanfaatan yang lebih optimal lewat industri-industri perkayuan yang terintegrated.
4. Penelitian Pengembangan Eboni
Penelitian berbagai aspek sangat diperlukan untuk pengembangan jenis ini, misalnya penelitian silvikultur, habitat, juga tentang kondisi masyarakat sekitar habitat hutan eboni, penyakit, panen dan pengolahannya. Mengingat jenis ini sangat lambat pertumbuhan kayu terasnya maka sangat diperlukan suatu penelitian untuk merangsang atau mempercepat pertumbuhan kayu teras agar waktu pertumbuhan untuk memanfaatkan kayunya dapat dipersingkat, tidak harus menunggu puluhan atau bahkan lebih dari seratus tahun.
Penutup
Sebagai flora endemik Sulawesi yang terancam punah, perlu dilakukan upaya-upaya pelestarian tanaman eboni sehingga dapat menunjang ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah. Pemanfaatan yang optimal juga dapat meningkatkan nilai ekologi dan sosial budaya setempat.
Sumber Pustaka
Anonim. 2008. Eboni (Diospyros celebica Bakh), Pohon Endemik Terancam Kepunahan. Balai Penelitian Kehutanan Makasar.
Erniwati. 2003. Pemanfaatan Kayu Hitam/Eboni (Diospyros celebica Bakh.) Dan Masalah Pelestariannya. Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor. Bogor.
(DAN BERBAGAI SUMBER LAINNYA)
Senin, 02 Maret 2009
teknik pemuliaan tanaman
I. MUTASI
Mutasi adalah perubahan bahan genetik pada organisme sehingga memungkinkan terjadinya perubahan ekspresinya. Mutan adalah organisme baru hasil mutasi. Mutasi dapat terjadi secara spontan (spontaneous mutation) dan dapat juga terjadi melalui induksi (induced mutation). Mutasi spontan terjadi karena adanya kesalahan dalam replikasi DNA. Kesalahan yang terjadi selama proses replikasi DNA dapat menyebabkan terjadinya mutasi transisi atau mutasi tranversi. Mutasi transisi terjadi jika basa nukleotida purin digantikan oleh basa nukleotida purin yang lain atau basa nukleotida pirimidin digantikan oleh basa pirimidin yang lain. Sebagai contoh yaitu pasangan AT menjadi GC atau TA menjadi CG Mutasi transversi adalah mutasi yang terjadi jika basa nukleotida purin digantikan oleh basa pirimidin begitupun sebaliknya. Sebagai contoh yaitu pasangan AT menjadi CG atau GC menjadi TA. Mutasi dapat juga terjadi karena buatan (diinduksi). Induksi mutasi dapat dilakukan dengan beberapa agen mutasi (mutagen) yaitu mutagen kimia (chemical mutagen) dan mutagen fisika (physical mutagen). Mutagen kimia pada umumnya berasal dari senyawa alkyl (alkylating agents) misalnya seperti ethyl methane sulphonate (EMS), diethyl sulphate (dES), methyl methane sulphonate (MMS), hydroxylamine, nitrous acids, acridines dan sebagainya. Mutagen fisika bersifat sebagai radiasi pengion (ionizing radiation) dan termasuk diantaranya adalah sinar-X, sinar gamma, sinar beta, dan neutron.
I.1. Pengelompokkan mutasi
a. Mutasi Genom
Mutasi genom adalah perubahan yang terjadi pada jumlah kromosom normal. Pada mutasi genom terjadi penambahan atau pengurangan set kromosom contohnya perubahan dari diploid menjadi haploid, triploid dan seterusnya.
b. Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada struktur dan jumlah kromosom. Perubahan yang terjadi pada struktur kromosom mengakibatkan terjadinya delesi, duplikasi, inversi dan translokasi. Sedangkan perubahan jumlah kromosom mengakibatkan terjadinya euploidi dan aneuploidi.
c. Mutasi gen
Mutasi gen adalah perubahan yang terjadi pada satu basa nukleotida. Pada mutasi gen, terjadi substitusi pasangan basa, penambahan pasangan basa, delesi satu atau beberapa basa dan penyusunan kembali pasangan basa nukleotida.
d. Mutasi di luar inti sel (extranuclear mutation)
Mutasi di luar inti sel adalah perubahan yang terjadi pada bahan genetik yang terdapat pada organel di luar inti sel misalnya kloroplas dan mitokondria.
I.2. Induksi Mutasi Dengan Menggunakan Kolkhisin
Mutasi secara induksi dapat juga menggunakan kolkhisin sebagai mutagennya. Pada konsentrasi tertentu, larutan kolkhisin dapat mencegah terbentuknya benang-benang plasma dari gelendong inti spindel sehingga tidak terjadi pemisahan kromosom pada waktu fase anafase dalam pembelahan sel. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penggandaan kromosom tanpa pembentukan dinding sel.
I.3. Pemuliaan Mutasi
Dalam bidang pemuliaan tanaman, teknik mutasi dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman sehingga memungkinkan pemulia melakukan seleksi genotipe tanaman sesuai dengan tujuan pemuliaan yang dikehendaki.
II. PEMULIAAN IN- VITRO
Pemuliaan in- vitro adalah bagian dari kegiatan pemuliaan tanaman yang dilakukan dengan menggunakan wadah tabung/gelas yang berisi media buatan (bukan tanah) sebagai media tanam. Hal-hal perlu diperhatikan dalam pemuliaan in vitro adalah 1) eksplan, 2) media yang digunakan, 3) steril condition, dan 4) hormon. Pemuliaan in-vitro dapat dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut :
a. Fusi protoplas
Protoplas adalah sel yang telah dihilangkan dinding selnya. Protoplas dapat diperoleh dengan memberikan enzim penghilang dinding sel misalnya selulase, pektinase dan protease. Fusi protoplas dapat dimanfaatkan untuk melakukan persilangan antar spesies atau galur tanaman yang tidak memungkinkaan untuk dilakukan dengan persilangan biasa karena adanya masalah kompatibilitas fisik. Dua buah protoplas dapat difusikan (digabungkan) dengan menggunakan aliran listrik ataupun zat kimia seperti PEG (Poly Ethylen Glicol). Dengan perlakuan fusi protoplas ini dapat diperoleh hybrid yang somatik (hybrid parasexual) jika nukleus dari kedua species mengalami penyatuan (fusi). Selain itu dapat diperoleh juga cybrid (sitoplasmic hybrid), jika yang mengalami fusi hanya sitoplasmanya saja. Hasil fusi yang diperoleh selanjutnya dapat ditumbuhkan dalam medium untuk menghasilkan kalus yang kemudian diinduksi untuk menghasilkan tanaman baru.
b. Embryo resque
Embrio yang berasal dari hasil persilangan seringkali tidak dapat bertumbuh atau mati karena adanya hambatan dalam penyerbukan dan pembuahan atau pembuahannya terjadi secara normal tetapi embrio mati pada awal tingkat perkembangannya. Keadaan embrio seperti ini dapat diselamatkan dengan teknik embryo resque yaitu pengambilan embrio yang belum matang dari biji dan menumbuhkannya dalam medium buatan untuk menghasilkan plantlet.
c. Kultur haploid (haploid culture)
Kultur haploid adalah mengkultur tanaman yang eksplannya mempunyai komposisi gamet haploid. Eksplan yang dimaksud dapat diperoleh dari anther. Sehingga teknik untuk menghasilkan tanaman haploid dengan eksplan anther disebut kultur anther. Tanaman haploid adalah tanaman yang mempunyai satu set kromosom dan memiliki kegunaan untuk menghasilkan tanaman homozigot sehingga mempermudah proses seleksi. Melalui tanaman haploid dapat diperoleh tanaman dihaploid yaitu dengan cara merangkapkan kromosom menjadi 2n dengan perlakuan kolkhisin.
d. Variasi somaklonal
Variasi somaklonal adalah variasi yang timbul karena perbanyakan tanaman melalui kultur in-vitro. Variasi somaklonal dapat disebabkan oleh beberapa factor, yaitu :
a. Organisasi sel yang digunakan sebagai eksplan.
Organisasi sel mempunyai peranan penting dalam hal pemunculan variasi somaklonal. Perbanyakan dengan lewat kultur meristem yang dapat menghasilkan plantlet yang stabil secara genetis sedangkan perbanyakan melalui kalus meningkatkan kemungkinan terjadinya variasi somaklonal.
b. Variasi pada jaringan sebagai sumber eksplan.
Eksplan yang berasal dari sumber yang berbeda mempunyai variasi inheren sehingga dapat muncul sebagai variasi somaklonal.
c. Abnormalitas pembelahan sel secara in-vitro.
Kombinasi yang tidak tepat dalam penggunaan zat pengatur pertumbuhan dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas dalam pembelahan sel yang dapat muncul dalam bentuk perubahan jumlah dan struktur kromosom.
Variasi somaklonal yang yang terjadi pada kultur in- vitro tanaman dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pemuliaan tanaman karena dapat menghasilkan varietas-varietas baru, misalnya varietas yang memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit.
III. REKAYASA GENETIK
Rekayasa genetik pada dasarnya adalah teknik untuk menggabungkan molekul-molekul DNA secara in-vitro sehingga diperoleh molekul DNA rekombinan sesuai dengan yang diharapkan. Rekombinasi genetik dapat juga terjadi pada pemuliaan secara konvensional, namun prosesnya tidak dapat diatur secara khusus (disengaja) seperti pada rekayasa genetik . Dengan rekayasa genetik dapat diperoleh organisme transgenik (Genetically Modified Organism/GMO) dan tanaman yang diperoleh dengan rekayasa genetika disebuat tanaman transgenik. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam rekayasa genetik yaitu a) identifikasi dan isolasi suatu gen yang diinginkan, b) pemotongan DNA dengan menggunakan enzim endonuklease restriksi, c) penyambungan DNA dengan menggunakan enzim DNA ligase ke dalam DNA vector, d) transfer DNA hasil ligasi (penyambungan) ke sel inang, e) analisis keberadaan DNA rekombinan dalam sel inang dan f) karakterisasi fungsional gen yang diklon. Transformasi genetik dapat dilakukan dengan melalui media Agrobacterium tumefaciens atau dengan cara DNA shotgun (gene gun).
a. Transformasi genetik dengan menggunakan media Agrobacterium tumefaciens
Bakteri Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen terhadap tanaman dikotil. Jika suatu tanaman dikotil terinfeksi oleh bakteri ini maka akan terbentuk tumor yang disebut crown gall. Jaringan tumor tersebut menghasilkan senyawa turunan asam amino yang disebut opine yang digunakan sebagai sumber karbon dan nitrogen oleh A. tumefaciens. Kemampuan membentuk tumor serta metabolisme opine ditentukan oleh suatu plasmid Ti yang ada dalam sel A. tumefaciens. Plasmid Ti mengandung suatu fragmen DNA yang disebut T-DNA (berukuran 15-30 kb) yang dapat diintegrasikan ke dalam DNA inti sel tanaman. T-DNA tersebut bertanggung jawab terhadap kemampuan menginduksi pembentukan tumor serta sintesis opine. Dengan pemahaman bahwa T-DNA dalam plasmid Ti A. tumefaciens dapat dipindahkan dan menyebabkan terjadinya crown gall pada tanaman maka hal itu dianggap sangat bermanfaat bila T-DNA pada plasmid tersebut diganti dengan DNA yang penting dan bermanfaat. Oleh karena itu plasmid Ti selanjutnya dikembangkan sebagai vektor untuk memasukkan DNA asing ke dalam sel tanaman.
Proses memasukkan DNA asing ke dalam tanaman dilakukan dengan terlebih dahulu mengisolasi DNA yang akan disisipkan. DNA tersebut selanjutnya disisipkan pada plasmid Ti sebagai vektor. Setelah disisipi dengan DNA asing, vektor tersebut kemudian dipindahkan ke dalam sel A. tumefaciens yang juga membawa plasmid Ti alami (yang mengandung DNA alami). Di dalam sel A. tumefaciens tersebut akan terjadi rekombinasi antara fragmen T-DNA yang sudah disisipi oleh DNA asing dengan T-DNA yang ada pada plasmid Ti alami. Dengan cara demikian maka DNA asing tersebut dapat disisipkan ke dalam T-DNA plasmid alami. Pada waktu sel A. tumefaciens yang membawa plasmid Ti rekombinan tersebut digunakan untuk menginfeksi sel tanaman, maka bagian T-DNAnya akan diintegrasikan ke dalam DNA inti sel tanaman. Dengan demikian DNA asing tersebut akan ikut terintegrasikan ke dalam genom tanaman.
b. Transformasi genetik dengan metode gen gun
Transformasi genetik juga dapat dilakukan dengan metode gen gun yaitu memasukkan DNA asing ke dalam sel tanaman dengan menggunakan alat biolistik gun bombardment. Teknik ini menggunakan mikro proyektil khususnya menggunakan partikel wolfram (tungsten) atau emas dengan ukuran diameter 1-2 µm yang dilapisi DNA yang akan dimasukkan ke dalam sel tanaman selanjutnya proyektil tersebut ditembakkan ke dalam sel tanaman. Sel tanaman yang telah ditembaki kemudian diregenerasikan pada medium yang sesuai.
Seleksi dan regenerasi tanaman
Tanaman dikulturkan pada medium yang mengandung antibiotik atau herbisida dan hanya tanaman yang memiliki gen penanda seleksi (selectable marker gen) yang tetap bertahan hidup.


